SEBELUM GILLETTE · Edisi Indonesia · No. 01
SEBELUM GILLETTE: PENANTIAN YANG TAK PERNAH KEDALUWARSA
PERINTAH PERTAMA BLADEFREGA
JANGAN ENGKAU MEMINTA IZIN UNTUK MENCIPTA.
Kebanyakan orang membayangkan keabadian sebagai tujuan yang jauh, ganjaran yang disediakan bagi para santo, filsuf, visioner, dan eksekutif yang sudah memakai kata “warisan” sebelum sarapan. Dulu aku pun membayangkannya begitu. Lalu suatu sore yang biasa menyela teori itu. Ada sebuah benda kecil, sebuah rutinitas yang akrab, dan penantian yang kadarnya tak masuk akal. Bendanya tidak penting. Penantiannya yang penting.
Manusia menghabiskan bagian hidup yang mencengangkan besarnya untuk menunggu persetujuan, kepercayaan diri, pengakuan, kesempatan, kondisi ideal, dan lampu hijau yang tertahan di beberapa departemen. Ada yang menunggu begitu lama sampai menunggu menjadi profesinya. Tragedinya bukan bahwa mereka menunggu. Tragedinya, mereka menyebutnya persiapan. Aku pernah bekerja di dalam organisasi yang begitu besar sampai mengira dirinya abadi. Mereka mengubah ketidakpastian menjadi rapat, rapat menjadi laporan, laporan menjadi rencana, dan rencana menjadi rapat lagi. Kelanggengan dijanjikan di setiap presentasi. Lalu logonya berganti. Waktu adalah editor yang keras. Aku berhenti memuja rencana dan mulai tertarik pada gerak. Gerak meninggalkan jejak. Penantian meninggalkan niat. Para pencipta yang paling dikenang memulai sebelum kepercayaan diri datang. Keunggulan mereka adalah gerak.
Kesimpulan
Keabadian tidak bermula ketika waktu menjadi tak berujung. Ia bermula ketika sebuah keputusan, sebuah halaman, atau sebuah karya menolak kedaluwarsa.
Ferdinando
