Pikiran Gillette

Gillette Mind — The Gillette Company Saga, chapter 13

SAGA THE GILLETTE COMPANY · Edisi Indonesia  ·  No. 13

Pikiran Gillette


Ini bukan unggahan yang biasa, bukan komunikasi biasa yang terasa perlu dikirim orang ke dunia. Ini salah satu saat yang tetap tercetak dalam hidup seseorang.

Ketika pertama kali mulai menulis, umurku baru 3 tahun. Aku belum bisa mengendalikan pena atau pensil, tetapi hal pertama yang berhasil kugambar adalah sebuah segitiga.

Ayahku terkejut. Ibuku menganggapnya kebetulan — ia menyuruhku mencoba lagi, dan hasilnya makin lama makin kecil, tetapi selalu segitiga.

Selagi aku tumbuh, tak seorang pun pernah menjelaskan kepadaku apa artinya. Sampai suatu hari, di sebuah sekolah asrama Katolik, aku paham bahwa di dalamnya hidup sebuah doa: dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Ia dulu — dan sampai kini — adalah kesempurnaan. Jumlah dua segitiga atau lebih menghasilkan sebuah persegi, dan gagasan bahwa persegi adalah bangun geometri yang sempurna runtuh seketika, tanpa keraguan sedikit pun.

Dan setelah sekian tahun di Gillette, tak seorang pun dalam rapat mana pun pernah berkata: mari kita persegikan masalahnya. Yang terdengar justru — dan itu benar — adalah: mari kita triangulasi situasinya, kenali area yang lemah, yang kuat, dan yang layak diperbaiki.

Hari ini segitigaku adalah penutupan Saga Gillette. Bukan sebagai target, bukan sebagai rencana — melainkan sebagai naluri menulis dan sebagai satu tindakan penghormatan yang mendalam.

Kepada semua yang akan datang membaca: dosis kecil. Jangan pernah semuanya sekaligus. Kalau tidak, pikiran tak menyaring dengan baik.

Nikmati perjalanannya.

Sama-sama.


Nando

PDF ← SAGA THE GILLETTE COMPANY