Kita Ada di Rumah di Gillette

We Are Home at Gillette — The Gillette Company Saga, chapter 17

SAGA THE GILLETTE COMPANY · Edisi Indonesia  ·  No. 17

Kita Ada di Rumah di Gillette


Sebuah tubuh Italia, dengan segala yang pernah menjadi dirinya, akan segera bersatu kembali dengan sebuah pikiran Amerika, dengan segala yang pernah diperbuatnya — di dalam keheningan yang dipelajari dari Ibu Gillette dan ajaran-ajarannya yang tiada duanya.

Aku tahu cara menghormati penantian. Tak pernah terburu-buru. Pelajaran yang kupetik begini: segalanya datang kepada mereka yang tahu menunggu — tanpa desakan, dan lebih-lebih lagi, tanpa pengharapan.

Menjadi orang yang tak meminta apa-apa sejak dulu merupakan besaran yang tak diketahui. Tak bisa dibeli itu merenggut kuasa dari seorang pria. Tetapi mengambil tanpa minta izin — itulah ajaranku. Seperti yang secara genetis sudah biasa dilakukan setiap perempuan di dunia.

Suatu hari kami mendapati diri di kamar mandi yang sama, pada jam yang sama, pada saat yang sama — ayahku dan aku, sedang bercukur. Kami berdua punya rapat yang sama pada waktu yang sama, dan aturannya selalu satu: datang lebih awal, jangan pernah tepat waktu.

Ia berhenti sejenak untuk mengamati ritual bercukurku dan melihat sesuatu yang membuatnya heran. Sapuan pertama di wajah bergerak dari bawah ke atas, melawan arah tumbuh rambut. Yang kedua menyapu bagian tengah. Hanya sapuan terakhir yang turun dari atas ke bawah. Dan sambil tersenyum, ia bertanya siapa yang mengajariku.

Aku menatapnya lekat-lekat. Ia tak pernah bicara tanpa alasan. Aku harus menguraikan maksudnya yang sebenarnya. Tapi jawabannya hanya satu: aku belajar dari Ayah — sejak umur lima tahun, selalu memperhatikan Ayah bercukur setiap pagi. Bahkan ketika sakit dengan demam 40 derajat, ia bangun, bercukur, lalu kembali ke ranjang.

Dan yang kuperhatikan, ia tak pernah melawan arah tumbuh rambut pada sapuan terakhir itu. Sebab katanya bagian yang kasar itulah identitas seorang pria — kalau terlalu mulus, kamu jadi perempuan.

Malam itu, Mei 2030, aku berjalan menyusuri jalan-jalan Boston-ku. Kenangan terus bermunculan. Beberapa tetes air mata membingkai hidupku, seluruh perjalanan itu.

Aku sendirian hanya secara fisik. Tapi dalam pikiran aku dikelilingi — oleh semua orang yang pernah memberiku sebuah kalimat, sebuah lelucon, sebuah cerita, sebuah kisah, dan telah mengisi ingatanku. Dan sejak kecil aku sudah belajar untuk tak pernah melupakan detail. Sebab detail adalah fondasi setiap percakapan yang serius. Sejak dulu memang begitu.

Sudah waktunya membuat perhitungan. Dan itu selalu dilakukan sesudah satu ronde poker di tangga, sebelum pulang — tak pernah sebelumnya.

GILLETTENARRATIVE mula-mula muncul di radar. Lalu ditaruh di bawah pengawasan. Lalu diperiksa dan diverifikasi. Dan baru sesudah itu ia menjadi apa yang memang menjadi tujuan kelahirannya: sebuah cerita.

Semua orang selalu mengajukan pertanyaan yang sama: bagaimana mungkin aku melepas semuanya hanya seharga 1 USD — dan bagaimana mungkin aku membangun semuanya hanya dengan 70 USD sebulan.

Jawabannya ada di dalam sebuah gambar.

Aku berada di dalam pondok, di depan perapian. Dan di seberang sungai kupandangi Prudential Center Tower di Boston — yang pernah menjadi rumah ibuku selama tahun-tahun ia menampungku. Dan pikiranku selalu sama.

Aku bisa saja menikmati rasanya tinggal di dalam gedung pencakar langit. Tapi aku bebas untuk tetap persis di tempatku berada — karena satu alasan saja: aku bebas.

Nando sang Juru Tulis. Seseorang yang tak kamu sangka ada. Namun ia nyata. Dan kamu akan selalu menemukannya di dalam apa yang ia perbuat — tak pernah di dalam apa yang ia katakan.


Ferdinando

PDF ← SAGA THE GILLETTE COMPANY