Komunikasi & Informasi P&G

P&G Communication & Information — The P&G Saga, chapter 11

SAGA P&G · Edisi Indonesia  ·  No. 11

Komunikasi & Informasi P&G


Informasi

Yang pertama berkomunikasi adalah manusia primitif tanpa pakaian. Yang pertama memberi informasi adalah manusia primitif berpakaian, dan berkartu pers.

Tetap saja manusia primitif. Tak ada yang berubah. Kecuali bahwa yang pertama harus bertahan hidup, sedangkan yang kedua mencari nafkah dengan menghidupkan kembali mereka yang bertahan.

Tetapi tak ada waktu untuk perdebatan atau kritik — itu kegiatan yang tak pernah kujalani.

Yang ingin kulakukan adalah menceritakan perbedaan antropologis di antara keduanya lewat cerita-cerita.

Bentuk komunikasi sejati yang pertama — dan di sini semua orang akan terlonjak dari kursinya — adalah keheningan.

Sebelum kata, sebelum suara, sebelum gerak isyarat, sebelum sikap tubuh, laku hening selalu mengukur kecerdasan seseorang dari kesanggupannya mengolah dan memutuskan — tak pernah sebaliknya.

Dan para lelaki, berkumpul bersama, tetap diam, memandangi bintang-bintang, yang abstrak, yang dibayangkan — sampai, dari kejauhan, sekelompok perempuan, yakin bahwa mereka sendirian, mulai bercakap-cakap di antara mereka: suara rendah, nada terkendali, ritme terkendali, irama yang tertib, setiap kata ditaruh dengan cermat. Begitulah perempuan.

Tetapi pelajaran pertama yang ditinggalkan keheningan bagi umat manusia bukanlah semacam sikap menahan diri di dalam batin — melainkan sebuah metode, perbatasan terakhir di dalam setiap ruang tempat keputusan-keputusan sungguhan diambil.

Meski begitu, kebisingan di dalam keheningan justru yang tak pernah absen: ia datang dari dalam, dan ia emosional, kognitif, logis dan rasional, naluriah dan afektif sekaligus.

Dan di sini, satu-satunya yang benar-benar sanggup menanganinya tetaplah, seperti selalu, perempuan — begitu lengkap, begitu fungsional, sampai-sampai mereka juga diserahi tugas meneruskan reproduksi manusia. (Di bidang lain — yang biologis, yang seluler — ada juga pejantan yang melahirkan. Tetapi itu jenis komunikasi yang lain.)

Untuk segala hal lain yang tidak kubahas di sini, kuserahkan kepada pengalaman masing-masing orang — itulah bagian terbaik dari diri kita.

Informasi mengingatkanku pada permainan yang dulu kami mainkan waktu kecil: semua orang melingkar, orang pertama membisikkan satu kata ke telinga orang berikutnya, lalu kata itu diteruskan sepanjang barisan melewati dua belas orang. Yang keluar di ujung sana biasanya ledakan tawa.

Permainan itu bisa berjalan dengan satu kata saja atau satu kalimat utuh, dan inilah yang terjadi:

Mulai dengan AKAN HIDUP, dan dua belas operan kemudian, kata yang keluar di ujung sana adalah AKAN MATI.

Mulai dengan kalimat seperti KAMI SEMUA TAHU DIA AKAN HIDUP, dan dua belas operan kemudian kalimat itu kembali sebagai SEMUA ORANG TAHU DIA SUDAH MATI, PEMAKAMAN DITETAPKAN TANGGAL 12 PUKUL 12.00. Ha ha ha ha.

Persis begitulah aku melihat media menggerakkan informasi hari ini — kalimat pembuka yang sama dari sebuah berita dilaporkan berbeda oleh media demi media. Apa yang kita kira permainan anak-anak sesungguhnya adalah kebenaran pahit tentang sebuah industri informasi tempat tak ada lagi beda antara kios koran dan ruang redaksi.

Pada akhirnya, kedua hal itu punya satu benang merah — keduanya anak dari asal-usul primitif yang sama. Kamu tinggal melihat cara orang berpakaian.

Selamat membaca.


Ferdinando

PDF ← SAGA P&G