SAGA KOMUNITAS · EDISI INDONESIA · N. 17
Pertanyaan Di Balik Setiap Jawaban
Untuk sebagian besar hidupku aku mengejar jawaban. Seperti yang dilakukan hampir semua orang. Aku ingin tahu mana keputusan yang benar. Mana jalan yang terbaik. Apa makna dari yang sedang kualami. Aku ingin kejelasan. Arah. Penegasan. Aku percaya bahwa kedewasaan terletak pada menimbun jawaban. Semakin banyak waktu berlalu, semakin aku seharusnya memahami cara kerjanya. Semakin banyak pengalaman kutimbun, semakin sedikit keraguan yang akan kumiliki. Itu teori yang anggun. Masalahnya, hidup seakan mengabaikannya sepenuhnya. Tahun-tahun berlalu. Pengalaman bertambah. Tanggung jawab bertambah. Namun pertanyaan tak berkurang. Sebaliknya. Semuanya menjadi lebih dalam. Lebih rumit. Lebih sulit. Itu sebuah penemuan yang mengguncang. Semasa bocah aku membayangkan orang dewasa sebagai orang-orang yang telah memahami. Lalu aku menjadi dewasa. Dan aku menemukan bahwa banyak dari kita sekadar belajar hidup berdampingan dengan ketidakpastian. Itu bukan hal yang sama. Ada perbedaan yang sangat besar antara mengetahui dan melanjutkan. Banyak yang melanjutkan. Sedikit yang benar-benar tahu. Aku ingat satu masa saat aku mencari jawaban di mana-mana. Dalam buku. Dalam organisasi. Dalam perjalanan. Dalam orang-orang yang lebih berpengalaman. Dalam kerohanian. Dalam nalar. Dalam angka. Aku percaya bahwa ada, di suatu tempat, sebuah penjelasan yang mampu menata segalanya. Sebuah rumus. Sebuah kunci. Sebuah sistem. Tapi setiap kali aku mengira telah menemukannya, datang sebuah pengalaman baru yang mempersoalkannya.
Pada mulanya itu menjengkelkan. Lalu menjadi menarik. Akhirnya menjadi membebaskan. Karena aku memahami sesuatu. Jawaban punya umur yang pendek. Pertanyaan yang tepat punya umur yang panjang. Sangat panjang. Sebagian menemani kita selama puluhan tahun. Siapa aku? Apa yang benar-benar penting? Apa artinya mencintai? Demi apa penderitaan itu sepadan? Apa yang tersisa ketika segalanya berubah? Ini bukan pertanyaan-pertanyaan untuk dipecahkan. Ini pertanyaan-pertanyaan untuk dihuni. Perbedaannya mendasar. Sebuah jawaban menutup. Sebuah pertanyaan membuka. Dan hidup, pada dasarnya, lebih menyukai yang terbuka. Setiap kali aku menempuh sebuah pengalaman baru, aku menyadari bahwa nilainya tak terletak pada kesimpulan yang dicapai. Ia terletak pada pertanyaan yang telah ia lahirkan. Sebuah kehilangan melahirkan sebuah pertanyaan. Sebuah cinta melahirkan sebuah pertanyaan. Sebuah penyakit melahirkan sebuah pertanyaan. Sebuah kemenangan melahirkan sebuah pertanyaan. Bahkan keberhasilan melahirkan sebuah pertanyaan. Sering jauh lebih sulit daripada kegagalan. Karena setelah meraih sesuatu, muncul sebuah pertanyaan yang tak terduga: “Dan sekarang?” Bertahun-tahun aku percaya bahwa makna segala hal tersembunyi di dalam jawaban. Lalu aku mulai memperhatikan sebuah kebetulan yang aneh. Orang-orang paling menarik yang kutemui juga adalah yang paling tak pasti. Mereka bukan orang yang bimbang. Mereka terbuka. Mereka memahami bahwa kenyataan lebih luas daripada keyakinan mereka sendiri. Lebih rumit daripada kerangka mereka sendiri.
Lebih kaya daripada kesimpulan mereka sendiri. Karena itu mereka terus mengajukan pertanyaan. Bukan karena kelemahan. Karena kecerdasan. Kecerdasan sejati tak terletak pada memiliki banyak jawaban. Ia terletak pada mengenali pertanyaan mana yang masih layak diajukan. Sepanjang hidupku aku telah mengunjungi negeri-negeri yang berbeda. Budaya-budaya yang berbeda. Agama-agama yang berbeda. Sistem-sistem yang berbeda. Setiap tempat memiliki jawaban yang berbeda. Namun pertanyaan-pertanyaan mendasar hampir selalu sama. Bagaimana hidup. Bagaimana mencintai. Bagaimana menghadapi kematian. Bagaimana hidup berdampingan dengan waktu. Bagaimana menemukan sebuah makna. Ini memukauku dalam-dalam. Karena ia menunjukkan sesuatu yang universal. Peradaban berganti bahasa. Pertanyaan-pertanyaan hakiki tidak. Mungkin justru karena inilah kesusastraan bertahan. Karena ia tak menawarkan solusi. Ia menawarkan penjelajahan. Sebuah novel tak berguna untuk memecahkan hidup. Ia berguna untuk menerangi sebuah pertanyaan. Dan sebuah pertanyaan yang baik bisa menemani seseorang selama bertahun-tahun. Lebih baik daripada banyak jawaban. Aku ingat suatu hari ketika aku merenungkan semua kepastian yang telah kutinggalkan. Semuanya banyak. Banyak yang telah memerintah masa-masa panjang keberadaanku. Sebagian telah berguna. Sebagian lain kurang. Tapi semuanya telah memberi tempat bagi sesuatu yang lebih matang. Kesadaran bahwa kenyataan bukanlah sebuah pengadilan. Ia sebuah percakapan. Sebuah percakapan tanpa akhir antara yang kita ketahui dan yang tak kita ketahui.
Antara yang kita pahami dan yang lolos. Antara diri kita yang dahulu dan diri kita yang sedang kita jadi. Sejak saat itu aku berhenti memperlakukan keraguan sebagai musuh. Aku mulai menganggapnya teman seperjalanan. Tak semua keraguan layak mendapat perhatian. Sebagian adalah kebisingan. Sebagian adalah rasa takut. Sebagian adalah kebingungan belaka. Tapi ada yang lain. Lebih dalam. Lebih sunyi. Lebih tulus. Yang terus kembali. Yang mengetuk pintu kesadaran tahun demi tahun. Yang meminta untuk didengarkan. Aku belajar menghormatinya. Karena sering ia menyimpan sesuatu yang penting. Sebuah perubahan. Sebuah kebenaran. Sebuah arah. Sebuah bagian diri kita yang masih belum dijelajahi. Menoleh ke belakang, aku tak lagi terkesan pada orang-orang yang punya jawaban untuk segalanya. Aku lebih tertarik pada mereka yang tahu cara mengajukan sebuah pertanyaan yang sejati. Karena sebuah jawaban bisa habis. Sebuah pertanyaan bisa melahirkan seluruh hidup. Mungkin ini salah satu pelajaran paling berharga yang ditinggalkan waktu kepadaku. Jangan hanya mencari jawaban. Carilah pertanyaan yang telah melahirkannya. Karena di balik setiap keyakinan yang bermakna. Di balik setiap perubahan yang nyata. Di balik setiap pilihan yang penting. Di balik setiap kisah yang layak diceritakan. Selalu ada sebuah pertanyaan yang tak terlihat. Dan di sanalah perjalanan bermula. Jauh sebelum jawaban.
Ferdinando Frega
Gillette Man ⚔️