Sebelum Gillette: Kopi Takdir

Before Gillette: The Coffee of Destiny — Before Gillette, chapter 05

SEBELUM GILLETTE · Edisi Indonesia ·  No. 05

SEBELUM GILLETTE: KOPI TAKDIR

PERINTAH PERTAMA BLADEFREGA

JANGAN ENGKAU MEREMEHKAN AWAL YANG KECIL.


Kopi punya reputasi yang tidak adil. Ia diperlakukan sebagai bahan bakar, ritual, tes kepribadian, dan sesekali sebagai pengganti sebuah filsafat yang utuh. Suatu sore, sambil menunggu secangkir kopi mendingin, aku menemukan bahwa waktu menjadi filosofis setiap kali kita dihalangi melakukan sesuatu yang berguna.

Kita menunggu izin dengan cara yang sama seperti kita menunggu kopi: yakin bahwa sedikit kesabaran lagi akan memperbaiki pengalamannya. Kadang kesabaran itu bijak. Kadang ia cuma kopi dingin dengan penjelasan yang terhormat. Awal yang kecil datang sebagai sebuah halaman, sebuah kalimat, sebuah sketsa, atau sebuah keputusan. Sejarah jarang mengenali sebuah awal selagi ia berlangsung. Momennya lenyap. Akibatnya tetap ada. Itulah pendapat profesional terakhir sang kopi tentang keabadian.


KESIMPULAN

Keabadian tidak bermula ketika waktu menjadi tak berujung. Ia bermula ketika sebuah keputusan, sebuah halaman, atau sebuah karya menolak kedaluwarsa.


Ferdinando

PDF ← SEBELUM GILLETTE