SILET PERTAMA, GILLETTE-KU · Edisi Indonesia · No. 11
GILLETTE: NANDO, KITA DI RUMAH
Sudah berminggu-minggu sebuah momen dari hidupku terus kembali kepadaku. Waktu itu tahun 1993, dan untuk peluncuran sebuah sistem bercukur yang revolusioner pada masanya, ayahku dan aku terbang ke Washington. Ia terus bertanya apakah aku bahagia, dan ia tersenyum. Aku jarang melihatnya begitu, dan itu membuatku penasaran — seakan-akan ia menunggu saat yang tepat untuk mengatakan sesuatu yang penting kepadaku.
Suatu sore, selepas kerja, kami berjalan menyusuri dermaga di tepi sungai. Ia mencengkeram lenganku, menarikku mendekat, dan berkata:
“Nando… kita di Amerika. Nando… kita di rumah.”
Ia bahagia — matanya berkaca-kaca, nyaris terharu, nyaris menangis. Tetapi aku terlalu muda untuk mengerti apa yang sebenarnya ia maksud di balik kata-kata itu.
Hari ini, aku tak bisa melupakannya. Sudah hampir tujuh bulan kenangan ini terus kembali, berputar-putar di benakku. Tiga puluh tiga tahun telah berlalu, dan ia sudah setahun tiada. Tetapi isyaratnya lantang dan jelas: ia ingin aku mengerti bahwa aku harus siap berangkat lagi — pulang ke rumah. Rumah yang tidak menerimaku 61 tahun lalu hanya karena kekeliruan bangau FedEx… tapi itu cerita lain.
Di sini, di Italia, aku merasa seperti terjebak di dalam peti buah — terkurung oleh sesuatu yang tak pernah menjadi milikku.
Bagaimana aku akan sampai ke sana, aku tak tahu. Uangku yang 70 USD sebulan adalah satu-satunya sumber dayaku, dan aku tidak mengejar siapa pun demi uang. Aku hanya mengejar perempuan cantik — kalau mereka cerdas. Bukan keburukan, tapi gairah. Utang budi kepada dia yang tak pernah butuh iklan — perempuan yang ada bahkan ketika ia berdiri sendirian.
Dan ketika akhirnya aku melangkah masuk ke suatu ruangan di sana, di sakuku akan ada tiga cabai Kalabria. Aku akan memperkenalkan diri dengan berkata:
“Inilah api — satu-satunya yang membuat kita tetap hidup dan mencegah kita jatuh sakit. Ia mulai di mulut dan berakhir di pantat. Hanya saja, jangan sampai lawan tahu.”
Nando
